-->

Search News

News

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Nasional

Pariwisata

Life & style

Musik & Film

Profile

Model & Fashion



Koperasi dan Kemakmuran Bangsa

 

Ilustrasi logo koperasi, sumber 'google picture'


DENPASAR - Di balik sorot gemerlap kesuksesan koperasi di Indonesia, terhampar kisah-kisah inspiratif yang menggugah semangat dan membawa harapan bagi ribuan pelaku usaha. Koperasi bukan sekadar entitas bisnis, tetapi juga tonggak kemakmuran dan keadilan sosial bagi masyarakat. 


Dalam perjalanan yang dipimpin oleh Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap, pemilik Koperasi Cendekia Praja Bakti, kita menemukan jejak-jejak kemakmuran bangsa yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga mengubah pandangan tentang koperasi.


Bagi Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap, Bung Hatta bukan sekadar nama, melainkan pilar yang membimbing langkah-langkah menuju keadilan dan kemakmuran melalui koperasi. 




"Koperasi bukanlah semata alat untuk mencari keuntungan, tetapi panggung di mana impian akan kemandirian ekonomi dan keadilan sosial menjadi nyata," ungkapnya dengan penuh semangat.


Koperasi Cendekia Praja Bakti mengusung revolusi dengan program-program inovatif dan kreatif, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan martabat anggotanya sebagai pelopor perubahan dalam masyarakat. 


“Mulai dari pelatihan keterampilan hingga program pemberdayaan ekonomi, koperasi ini terus menorehkan prestasi gemilang,” imbuhnya.


Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap mengatakan bahwa di tengah gejolak ekonomi global, koperasi menonjol sebagai penanda keberhasilan dalam membangun kemakmuran bangsa. 


“Koperasi bukanlah sekadar lembaga bisnis biasa, ia adalah wadah kebersamaan yang menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” terangnya dengan mata bersinar penuh kecintaan pada koperasi.


Kesuksesan koperasi bukanlah hanya tentang angka dan laba semata, melainkan juga tentang keberhasilan dalam memperkokoh nilai-nilai kebersamaan dan keadilan. 


“Dengan terus mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh besar seperti Bung Hatta, koperasi tetap menjadi mercusuar yang menerangi jalan menuju kemakmuran dan keberlanjutan bagi bangsa Indonesia,” imbuhnya.


Melalui prinsip inklusi, koperasi membuka pintu kesempatan bagi semua lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi. Dengan memberdayakan anggotanya, koperasi mampu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi yang telah lama menjadi momok bagi banyak negara. Di koperasi, setiap suara didengar, setiap kontribusi dihargai, dan setiap anggota memiliki kesempatan yang sama untuk maju.


Namun, Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap menjelaskan bahwa kekuatan sejati koperasi terletak pada semangat kebersamaan dan solidaritas di antara anggotanya. 


“Di dalam koperasi, setiap individu tidak hanya menjadi pengusaha, tetapi juga sahabat dan mitra dalam perjalanan menuju kesuksesan bersama. Dalam suasana saling percaya dan gotong royong, koperasi menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan kolektif dan memupuk rasa memiliki yang kuat terhadap usaha bersama,” terangnya


Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa koperasi menjadi salah satu pilar utama dalam membangun kemakmuran yang berkelanjutan bagi bangsa. Dengan komitmen pada nilai-nilai kebersamaan, inklusi, dan solidaritas, koperasi bukan hanya menjadi cermin kemakmuran ekonomi, tetapi juga perwujudan dari cita-cita sosial yang mulia. Dalam koperasi, kita bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih baik untuk semua.


Dikenal sebagai tokoh Proklamator dan Wakil Presiden pertama Indonesia, Drs. Muhammad Hatta, atau yang akrab disapa Bung Hatta, juga memiliki peran yang signifikan sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Namun, kehadiran Bung Hatta dalam sejarah koperasi Indonesia tidak hanya sebatas sebagai simbol, melainkan juga tercermin dalam kontribusi intelektualnya yang mendalam terhadap pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia.


Salah satu karya terkenal Bung Hatta adalah buku berjudul,


"Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun" 


yang diterbitkan pada tahun 1971. Buku ini bukan hanya sekadar kumpulan pemikiran, tetapi juga merupakan panduan praktis bagi pembangunan koperasi di Indonesia. Dalam bukunya, Bung Hatta menekankan pentingnya koperasi sebagai instrumen untuk memperkuat ekonomi rakyat, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat fondasi demokrasi.


Selain itu, Bung Hatta juga membedakan antara individualitas dan individualisme. Bagi beliau, individualisme menekankan pada kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan bersama, sementara individualitas mengacu pada sifat-sifat moral dan etis yang memperkuat hubungan antaranggota koperasi.


Dengan demikian, koperasi bukan hanya sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai wahana untuk mendidik dan memperkuat nilai-nilai sosial, seperti toleransi, tanggung jawab bersama, dan semangat gotong royong. 


Dalam koperasi, kita tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih baik untuk semua. TIM

Polisi Lambat Tindak, Anak Akui Digosok Kemaluan Bapak Kandung

 

Ilustrasi

SINGARAJA - Perbuatan bejat seorang bapak kandung terhadap buah hatinya dengan gamblang di media sosial dipaparkan, belum juga membuat pihak kepolisian mengambil tindakan cepat dan tegas.

Perbuatan asusila dengan mencabuli putri kandungnya, seorang pria asal Buleleng yang sempat menjadi calon legislatif (Caleg) partai terbesar dan gagal nyaleg di Buleleng dilaporkan ke Polda Bali, bahkan sebelumnya kasus tersebut diadukan ke Polres Buleleng namun tidak mendapat tanggapan lantaran dugaan intervensi pentolan Parpol yang diduga melindungi pelaku. Disini terlihat tindakan hukum itu tumpul keatas dan tajam kebawah. 


Perbuatan yang dilakukan inisial KJA (49) yang dilaporkan istrinya NMJ ke SPKT Polda Bali dengan nomor Surat Tanda Penerimaan Laporan, STTLP/177/III/2024/SPKT/Polda Bali tertanggal 13 Maret 2024, Namun sampai saat ini belum dapat ditanggapi, karena KJA masih belum diamankan.


Perbuatan KJA itu dilakukan kepada anak kandungnya di sebuah kost yang beralamat di Desa Girimas Kecamatan Sawan Buleleng pada Kamis 22 Februari 2024.


"Kasus ini telah dilaporkan oleh ibu korban ke Polda Bali pada Maret lalu, tetapi karena TKP serta terduga pelaku berasal dari Buleleng, kasus ini pun dilimpahkan ke Polres Buleleng untuk memudahkan penyelidikan, " jelas Kepala Seksi Humas Polres Buleleng, AKP I Gede Darma Diatmika, Kamis 25 April 2024.


Ia juga menyebutkan bahwa secara bertahap telah dilakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi atas laporan dan ia juga membantah adanya intervensi pihak-pihak tertentu dalam proses penanganan yang dilakukan di Polres Buleleng.


"Ia benar, kami belum menetapkan sebagai tersangka, penyelidikan masih mengumpulkan bukti yang cukup dan hasil visum, " terangnya.


Visum dan Pendampingan secara psikologis sudah dilakukan terhadap korban.


"Mohon bersabar, hasil visum belum keluar, " ungkap Kasis Humas.


Pelaku dapat dijerat dengan undang - undang Tindak Pidana Pencabulan Anak dalam KUHP Baru.


Jika tindak pidana dalam Pasal 415 UU 1/2023 mengakibatkan luka berat, dipidana penjara paling lama 12 tahun. Jika tindak pidana dalam Pasal 415 UU 1/2023 mengakibatkan matinya orang, dipidana penjara paling lama 15 tahun. (Tim)

Jangan Khawatir, Penderitaan Adalah Bekal Pulang

 

Ilustrasi 


Bagian 1

Penulis: Ray


DENPASAR - Penderitaan seorang manusia merupakan jalan pelepasan, tak ada cara lainnya dalam mencari jalan pulang kembali ke rumah asal kita. Banyak ajaran buku suci mengajarkan kita metode - metode dalam mencapai pencapaian yang diinginkan, biasanya harapan kita yang tertinggi " Moksartham jagadhita ya ca iti dharma”, yang memiliki arti bisa dicari di google bila ingin memahaminya lebih dalam lagi.


Kehidupan manusia adalah ibarat seperti perahu yang melewati sungai dan akan menuju lautan lepas (acintya). Dalam perjalanan sang perahu ini, sang jiwa (pendayung), perahu (sang tubuh) dan sungai dan langit (bawah-atas/ akasa ibu pertiwi dalam kehidupan) serta arus sungai sebagai blue print karma kehidupannya.


Perjalanan menuju lautan inilah yang mengandung banyak problematika dalam kehidupan karena didasari oleh ambisi, keserakahan, kemiskinan dan penderitaan lainnya. Sang jiwa terkadang mendayung terlalu kuat sampai kayu dayung patah, ada yang mengikuti arus terlena terhadap pemandangan sekitarnya, ada yang kebingungan kapan sampai bahkan ingin meloncat dari perahu tubuh ini (mati) lebih cepat bahkan membebani perahu dengan harta benda yang begitu banyak, tentu menyulitkan perahu bermanuver dalam arus air, walaupun itu dapat membuat nyaman karena segala kebutuhan bisa terpenuhi (hiburan sementara).


Untuk meredam kondisi kejiwaan dalam penderitaan mereka, ia menggunakan alat bantu yakni narkoba, minuman keras dan lainnya, karena dengan itu bisa instan dalam menikmati arus sungai penderitaan. Alih -alih belajar meditasi atau lainnya sambil menunggu sang perahu menuju laut lepas (bebas). Alat bantu itu membuat perahu lepas landas sementara dari atas air menuju rasa kedamaian akasa, yang ujungnya perahu akan kembali menghujam air sungai lebih keras dan membuat banyak penderitaan baru bagi perahu. Itu membuat batu, ranting dan masuknya air dalam perahu. Itu membuat perahu atau sang tubuh hancur dan rusak yang ujungnya keinginan mencapai laut lepas (pelepasan) kandas. Bila ia melatih diri dalam meditasi ia akan mampu melewati, merasakan dan mengikuti irama aliran sungai yang kadang deras kadang lambat dalam satu masa kehidupan.


Penderitaan yang dirasa oleh sang nahkoda perahu dalam melewati semua rintangan itu disebut karma kehidupan. Bayangkan bila tidak ada arus sungai, apakah perahu akan berjalan sampai ketujuan? Itulah mengapa penderitaan karma kehidupan itu diperlukan.


Bila ingin detail dalam mempelajari karma kehidupan bukanlah sebuah penderitaan, karena sang jiwa ini menggunakan perahu yang terbatas dengan geraknya di air (alam dunia) sebagai media perjalanannya. Perbedaan jiwa (alam sunia) berbeda dengan alam dunia yang sementara ini, itulah yang membuat dan seolah-olah itu penderitaan, dan itu juga dikarenakan kita terlalu meyakini perahu ini adalah diri kita seutuhnya. karena terbatasnya ruang gerak tadilah kita merasakan penderitaan, sesungguhnya tidak, hanya sebuah pengalaman bagi sang jiwa mengetahui sumber asalnya atau yang kita sebut Tuhan.


Bila kita melihat pengalaman cerita Pandawa atau Bodhisattwa sang Budha, ia bahkan mengalami kematian dalam satu masa kehidupan, atau berganti perahu dalam satu masa kehidupannya. 


Aneh berganti perahu (badan) saat masa kehidupan apa bisa? Bisa, karena badan ini adalah sesuatu yang hidup, berganti sel tiap sel bahkan DNA, itulah yang disebut pencerahan. Bila sudah mencapai pencerahan itulah tubuh awal yang hidup ini mati, biasanya dalam kehidupannya itu mengalami penderitaan dan perubahan yang drastis. 


Contoh sang Budha, harus pergi dari kerajaannya, kita tidak memahami apa yang menyebabkan Budha atau Sidharta Gautama itu pergi dari kerajaannya. Bahkan tidak mungkin ada satu manusiapun yang mau pergi meninggalkan kenyamanan dalam hidupnya tanpa paksaan. Tentu ada sebuah pemantik besar suatu permasalahan didalam internal itu yang membuat sang Budha harus pergi. Itu semua bukanlah kehendaknya, tetapi kehendak jiwa yang sudah melewati ribuan kalpa pengalaman kehidupan, jiwamya telah matang.


Atau Pandawa yang kalah judi, judi bisa saja pertarungan bisnis dalam menjalani hidup ini, atau tersandung kasus yang merubah total hidup kita. Istri dan keluarga minggat hilang dari radar kita, harta tersita pihak yang berwajib atau tertipu dan sebagainya. Bahkan diri ini seperti asing, berbeda dengan kehidupan sebelumnya sebagai anak raja atau apalah yang lebih. 


Semua itu berakhir? Ternyata tidak. Hidup harus berjalan lebih berat, lebih sederhana dan lebih menderita. Sebenarnya tidak demikian, kita terlahir kembali sebagai orang yang berbeda sesuai skenario arus sungai tadi. Sejatinya hidup lebih simple, lebih aktif, lebih sederhana, lebih gesit dan sebagainya. Itu akan membuat kebijaksanaan kita lebih tinggi dari sebelumnya, hidup ini sementara dan bergegas, berlomba-lonba menuju sang sumber yakni Tuhan. 


Jadi, nikmati setiap gerak perahumu agar tidak oleng dan kandas terbentur-bentur batu sungai. Niscaya semua ini tidak ada yang sia-sia, bila saatnya tiba semua kekayaanmu (kerajaan) sang Budha atau Pandawamu kembali, dirimu tidak akan merasa sangat terikat dan beban terhadap itu semua, karena kebijaksanaan yang sudah tumbuh dan ingin kembali kepada sumber segala sumber kehidupan.

Lelang Tak Sesuai Prosedur, Nasution Minta Hargai Bangunan Adat

 

Suriantama Nasution (kiri) kuasa hukum dan IB Suryahadi kanan

DENPASAR - Banyak dugaan bahwa bank-bank itu terkadang tidak benar-benar memperjuangkan hak nasabah. Ada aduan dari seorang nasabah (kreditur) sebuah bank BUMN bernama Dr. IB Suryahadi, Sp.B., menyebutkan telah dirugikan.

Ia menceritakan bahwa dirinya mengalami situasi dimana adanya beberapa kejanggalan yang berujung pada hilangnya aset yang dimilikinya.




Dimulai dari tahun 2017, Suryahadi melakukan kredit pinjaman di Bank Mandiri yang sebelumnya mendapat pinjaman di Bank BCA.

" Pengajuan kredit saya senilai 15 Milliar dengan 3 jaminan, villa saya, rumah saya ini dan di rumah Renon, " ucapnya, Rabu (18/10/2023).

" Tetapi akad kredit yang dibacakan rumah saya yang di Renon yang saya ganti rumah di Gunung Catur, ya salah ini saya ganti (menceritakan ucap lawan bicara). Dan itu tidak dijelaskan kreditnya bagaimana, cuma ini akan dipotong langsung auto debet, " keluhnya kepada awak media.

Keluhnya kembali belum genap 1 bulan sudah mendapatkan potongan secara auto debet pokok dan bunga. Dikatakannya bahwa ia menandatangini akad kredit itu di tanggal 27 September ini baru tanggal 5 oktober, dijawab pihak bank itu sudah system.

" Bahkan petugas pajak juga sempat menanyakan sejumlah uang besar yang ada di rekening dan saya menunggu akte kredit belum juga saya dapatkan, saya dapatkan melalui pdf "

" Saya tanyakan ke Notaris, dijawab sudah diserahkan semuanya ke bank, ini buat saya curiga, ini ada sesuatu akte kredit saya tidak diberikan "

" Sampai saat ini hanya itu saja loh yang saya pegang, melalui somasi saya minta, tidak pernah dikasih, " jelasnya.

Pada awal Oktober 2018, ia menceritakan bahwa dirinya mengalami kesulitan yang melanda usahanya karena kondisi tamu dari mancanegara tidak bisa datang untuk berobat. Cancel semua karena kondisi Bali saat itu tidak baik, sehingga dirinya mengajukan keringanan kepada Bank Mandiri.

Pihak Bank memberikan solusi dengan skema restrukturisasi kredit, dengan meminta setoran 250 juta, yang mana setiap bulan akan dipotong 50 juta sebagai cicilan perbulan, setidaknya selama 5 bulan kedepan.

Pihak nasabah menyetor dana 250 juta pada bulan 14 Februari 2019.
Saat itu dari pihak Bank memberikan print out dari data out standing dan meminta pembayaran dana tiap bulan disetorkan melalui rekening GNC (Giro Non Customer)

Tetapi pada bulan Maret 2019, ternyata jumlah dana yang dipotong menjadi 146 juta, dengan alasan ada dana appraisal, biaya restrukturisasi, tunggakan bunga dan kekurangan bayar cicilan sebelumnya yang saat pertemuan sebelumnya tidak disampaikan pihak Bank ke nasabah.

Tetapi nasabah tetap meneruskan pembayaran cicilan setiap bulan ke pihak Bank melalui aplikasi Living Mandiri dan mengirim screen shoot bukti transfer setoran kepihak Bank sebagai tanda bukti.

Pada bulan September 2019, pihak nasabah dipanggil pihak Bank Mandiri untuk bertemu dengan pejabat Bank Mandiri cabang Gajah Mada, disana disampaikan bahwa status subjek jaminan akan dilelang (villa) karena sudah masuk coll 5, dan hanya diberi waktu 2 minggu jika ingin menyelesaikan pembayarannya.




Hal ini membuat kaget pihak nasabah, karena selama ini sudah melakukan proses pembayaran rutin setiap bulan, tetapi tidak tercatat dilaporan kas Bank Mandiri.

Hal ini dibuktikan saat nasabah meminta data catatan rekening Banknya dibuka dengan disaksikan oleh pihak Bank Mandiri.

Hal yang juga mengherankan, nasabah tidak pernah dihubungi pihak Bank Mandiri, terkait adanya gagal bayar yang terjadi selama periode tersebut.

Akhirnya villa tersebut dilelang dan terjual dengan harga jauh dibawah harga pasaran yang semestinya.

Hal ini terulang kembali pada jaminan berikutnya, berupa rumah tinggal yang berlokasi di Jalan Gunung Catur Denpasar, dilelang dan terjual dengan harga dibawah harga pasaran juga pada bulan Februari 2020.

Pada bulan Desember 2021, dikeluarkan kembali surat lelang untuk jaminan rumah yang ke 3, saat itu nasabah melalui kuasa hukumnya melakukan perlawanan untuk mencegah agar rumah ini tidak masuk proses lelang, sehingga hingga saat ini proses lelang bisa ditangguhkan.

Nasabah sampai saat ini tetap berusaha berjuang mencari keadilan melalui pihak-pihak yang berkaitan dengan masalah perbankan ini, tetapi saat ini belum ada titik temu yang bisa memberikan solusi atas ketidakadilan yang nasabah alami.

"Saya sudah dirugikan secara materi, belum lagi kerugian imaterial yang merusak nama baik kami. Saya menuntut keadilan agar ditegakkan, jangan lagi ada kezholiman yang dilakukan oleh oknum yang akan merusak citra perbankan secara keseluruhan," demikian pintanya.




Lanjut kepada Suriantama Nasution, SE, SH, MM, MBA, MH, BKP, Advokat, CCM, CFP, CLA, CTL, CMCP., selaku kuasa hukum dari Dr. IB Suryahadi, Sp.B. ia menyebutkan tidak ada wanprestasi.

" Betul, proses lelang memang ada prosedurnya, nah penjelasannya harus adanya Wanprestasi disana "

Dikatakan juga disana bahwa kliennya tetap ada membayar disana. Adanya restrukturisasi, reconditioning, dan adanya kondisi yang tidak normal, misalnya darurat kesehatan itu jelas POJK-nya.

" Pandemi ke Endemi juga ada, yaitu darurat ekonomi, inflasi yang tinggi, resesi di beberapa negara dari G20 diaminin menjadi U20, gak bisa dibandingin apel dengan jeruk "

" kita akan bantah itu, " jelasnya, Rabu (18/10/2023).

Disini dirinya melihat bahwa ini bukan wanprestasi melainkan perbuatan melawan hukum.

" Mereka tergiring, aset mereka habis dan tidak ada pertanggungjawaban disini "

Lebih lanjut nilai aset 12 Milliar dihargai menjadi 6 - 7 Milliar, itu kerugian nyata bagi principalnya. Sedangkan aset yang akan dilelang adalah rumah tua dari kliennya. Yang notabene hukum adat di Indonesia ini adalah hukum yang tertinggi ujarnya.

" Rumah tua yang tidak mungkin dialihgunakan, dimana 'sense urgency' Bank Mandiri. Kami akan proses peradilan dan meminta OJK untuk melakukan suspend Bank Mandiri "

" Gak mungkin ada sebuah lembaga keuangan yang katanya sudah terbuka (tbk) melakukan praktik-praktik manipulasi, setidaknya misadministrasi, maladministrasi dan malmanagement ini terjadi disini, kita butuh keyakinan dan keadilan yang diminta oleh principal kita "

" kita tidak mau cerita ini berulang, Kita butuh literasi perbankan, kita butuh keterbukaan dati BUMN yang katanya pakai Akhlak, " pungkasnya.

Sampai berita ini turun, pihak Bank Mandiri belum dapat dikonfirmasi karena hari libur. Rencana awak media akan melakukan konfirmasi kembali. (Ray)

Gubernur Bali dan Wayan Koster Hadiri Upacara Pakelem di Danau Batur

 

Wayan Koster (tengah) dan Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya.

BANGLI - Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali, Bapak DR. IR. Wayan Koster, M.M, mengikuti prosesi Upacara Pakelem ring Danau Batur serangkaian Karya Agung Danu Kerthi, Tawur Agung Labuh Gentuh, Meras Danu lan Gunung, Bakti Pakelem ring Segara lan Pucak Gunung Batur, Mapaselang dan Mapadanan di Pura Segara Ulun Danu Batur, Pura Jati, Songan Kintamani.



Prosesi Upacara Pakelem ring Danu Batur yang dilaksanakan Bapak Wayan Koster, turut juga dihadiri oleh PJ Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya bersama Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta.

Dalam prosesi yang sakral tersebut, Bapak Wayan Koster bersama Krama Adat setempat melakukan Upacara Pakelem ditengah Danau Batur dengan menggunakan sarana wewalungan kebo hingga bawi. Tujuan dari pelaksanaan upacara ini untuk memuliakan sekaligus menyucikan air, dengan doa supaya Ida Bhatari Dewi Danu memberikan kerahayuan dan kesejahteraan kepada seluruh Krama Bali. (Sumber facebook Sobat Koster), Rahina Tilem Sasih Kapat, Sabtu (Saniscara Pon, Matal) 14 Oktober 2023, Bangli.



Upacara pakelem lima tahunan yang pelaksanaannya diambil sama dengan tahun 1919 silam dipuput oleh 11 Sulinggih.

Puncak upacara pemuliaan Danau Batur yang persiapannya telah berlangsung sejak 2 September 2023 itu terdiri atas tiga kegiatan utama, yakni Tawur Agung Labuh Gentuh, Mapakelem di Puncak Gunung dan Danau Batur, serta Mapaselang. Tawur Labuh Gentuh yang digelar di areal utama mandala Pura Segara Ulun Danu Batur dipuput oleh Ida Pedanda Gde Putra Bajing Griya Tegaljingga, Denpasa; Ida Pedanda Gde Putra Kekeran, Griya Blahbatuh, Gianyar; Ida Pedanda Rai Griya Pidada Sengguan, Klungkung; Ida Pedanda Budha Griya Saraswati, Batuan, Gianyar; Ida Pandita Mpu Nabe Siwa Putra Daksa, Griya Agung Lingga Acala, Calo, Gianyar; dan Jero Gede Sengguhu Tumburuwasa, Griya Jero Gede Sengguhan, Lambing, Badung. 

Tawur Agung Labuh Gentuh menggunakan sarana wewalungan (binatang) seperti kerbau, sapi, luwak, manjangan, anjing bangbungkem, kijang, petu, babi butuan, kambing, angsa, banyak, bebek belang kalung, bebek buli sikep, dan berbagai jenis ayam menurut warna. Selanjutnya, pakelem di puncak Gunung Batur dilaksanakan di dua tempat, yakni Pucak Kawanan Gunung Batur dan Pucak Kanginan Gunung Batur (kawah utama). Upacara tersebut dipuput Ida Pedanda Gde Ngurah Keniten, Griya Kediri, Sangeh, Badung; Ida Pedanda Gde Made Rai Keniten, Griya Denpasar; dan Ida Pedanda Budha Griya Gunung Sari, Ubud.

Pada saat Mapaselang, upacara dipuput pula oleh empat orang sulinggih yakni Ida Pedanda Oka Buruan, Griya Sandingsuta Manik Manuaba, Pejeng, Gianyar; Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogata Karang, Griya Buduk, Badung; Ida Pedanda Rai Griya Pidada Sengguan, Badung; Ida Pedanda Istri Karang, Griya Sibetan.

" Terima kasih atas semua pihak yang turut membantu pelaksanaan upacara Danu Kerthi, ini merupakan ritual yang diamanatkan para panglingsir Batur sebagai cara untuk memuliakan dan berterima kasih pada alam, khususnya Danau Batur, " ucap Jero Gede Batur.

" Kami menggunakan pola yadnya seperti 104 tahun yang lalu, yakni pada tahun 1919, di mana pakelem di danau menggunakan 3 ekor kerbau dan 1 ekor babi seharga 1.000, " jelasnya.

Pada saat pakelem di tengah segara turut dilaksanakan ritual nuwur tirtha amerta oleh masyarakat Batur, yang diikuti oleh Pj Gubernur Bali, Sang Made Mahendrajaya; Gubernur Bali 2018-2023, Wayan Koster; Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta; Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. I Nengah Duija; dan lain-lain. (Tim)

BPBD Bali Raih 3 Penghargaan Nasional

 


DENPASAR - Informasi menggembirakan, BPBD Bali meraih 3 penghargaan Nasional sekaligus dalam penyelenggaraan Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2023 yang di selenggarakan di Kendari Sulewesi Tenggara, 12 Oktober 2023.

BNPB sekaligus memberikan penghargaan kepada BPBD-BPBD yang berkinerja baik, dalam acara Rakornas Logistik dan Peralatan pada waktu yang lalu. Dalam forum tersebut BPBD Provinsi Bali memperoleh 3 penghargaan sekaligus yaitu,

1. BPBD terbaik kategori perencanaan dan tata kelola gudang logistik dan peralatan penanggulangan bencana tingkat provinsi wilayah tengah;

2. Terbaik II dalam Kompetisi Yel-Yel Bulan PRB dengan tema kesiapsiagaan logistik dan peralatan dalam menghadapi bencana.

3. BPBD Terfavorit dalam Kompetisi Yel-Yel Bulan PRB dengan tema kesiapsiagaan logistik dan peralatan dalam menghadapi bencana. (Tim)

Kebakaran TPA Hari 3, Pengungsi Mulai Terlihat Padati Kantor Lurah Serangan

 


DENPASAR - Malang nasib masyarakat di sekitar TPA Suwung Kangin, kebakaran hebat yang melanda membuat masyarakat sekitar harus mengungsi di Kantor Lurah Serangan dari beberapa KK penduduk yg bermukim di sekitaran TPA Suwung Kangin yang saat ini terdampak kepulan asap akibat kebakaran.




Telah tiba beberapa orang pengungsi yang terdampak kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung Kelurahan Pedungan Kecamatan Denpasar Selatan yang saat ini mengungsi di Kantor Lurah Serangan, Jumat (13/10/2023) pukul 19.30 Wita.

Adapun jumlah pengungsi di Kantor Lurah Serangan sampai saat ini sebanyak 6 KK terdiri dari 25 Jiwa dengan rincian 11 orang dewasa dan 13 orang anak-anak.




Saat ini seluruh pengungsi di tampung di ruang pelayanan Kantor Lurah Serangan dan seluruhnya masih terlihat dalam keadaan sehat walafiat.

Tidak menutup kemungkinan, untuk pengungsi di Kantor Lurah Serangan kedepannya kemungkinan bisa bertambah karena api belum dapat dipadamkan.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan
(TKSK) Denpasar Selatan maupun dari pihak kesehatan akan mendata kembali esok paginya. Mereka akan menurunkan personil PMI guna melaksanakan pemeriksaan kesehatan.




" Setelah assessment pihak Tagana akan mengirimkan bantuan seperlunya dan untuk sore tadi pengungsi telah di berikan bantuan berupa nasi kotak dan besok pihal Tagana akan memberikan bantuan kasur lipat, " ungkap seorang petugas yang tidak mau disebutkan namanya. (Tim)

Editor : Ray