-->

Profile

Iklan

 


Direktur AKNSB Yogyakarta: Sendratari Satya Paramartha Wujud Pelestarian Budaya Berbasis Inovasi, Sukses Memikat PKB XLVIII Bali

Admin
Sabtu, 11 Juli 2026, Juli 11, 2026 WIB Last Updated 2026-07-11T02:02:19Z

 

Direktur Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya (AKNSB) Yogyakarta, Prof. Dr. Drs. Kuswarsantyo, M.Hum.

DENPASAR – Direktur Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya (AKNSB) Yogyakarta, Prof. Dr. Drs. Kuswarsantyo, M.Hum., menegaskan bahwa keikutsertaan kampus yang dipimpinnya dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII merupakan bagian dari komitmen melestarikan seni tradisi Yogyakarta melalui inovasi tanpa meninggalkan akar budayanya.


Komitmen tersebut diwujudkan melalui pementasan Sendratari Satya Paramartha (Pencarian Kebenaran Tertinggi) yang berhasil memukau penonton di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (9/7). Pertunjukan itu mendapat apresiasi berkat kekuatan koreografi, tata busana, tata artistik, hingga garapan musik karawitan yang dinilai tampil lebih matang dibandingkan penampilan pada tahun-tahun sebelumnya.


"Setiap tahun kami hadir tidak hanya membawa seni tari, tetapi juga karawitan dan kriya kulit, termasuk pameran wayang kulit. Dukungan Dana Keistimewaan DIY membuat proses pembelajaran dan praktik lapangan mahasiswa dapat berjalan dengan baik," ujar Prof. Kuswarsantyo.




Ia menambahkan, AKNSB Yogyakarta terus mendorong mahasiswa untuk berkreasi mengikuti perkembangan seni pertunjukan Indonesia tanpa meninggalkan karakter khas Yogyakarta.


"Apalagi kami tampil di Bali. Mahasiswa harus terus diasah kreativitasnya, namun tetap berakar pada tradisi Yogyakarta," katanya.




Sementara itu, Sutradara Otok Fitrianto, M.Pd., menjelaskan bahwa konsep Sendratari Satya Paramartha disusun selaras dengan tema PKB XLVIII, "Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, Memuliakan Jiwa Paripurna."


Pertunjukan mengangkat kisah Bratasena yang diperintahkan gurunya, Resi Durna, mencari Tirta Perwitasari sebagai syarat memperoleh kesempurnaan ilmu. Tanpa disadari, perintah tersebut hanyalah tipu daya untuk mencelakakannya.



Dengan keteguhan hati, Bratasena menghadapi berbagai ujian, mulai dari melawan raksasa penjaga Gunung Candramuka hingga naga penguasa samudra. Perjalanan spiritual itu mencapai puncaknya ketika ia bertemu Dewa Ruci di dasar lautan.


Melalui perjumpaan tersebut, Bratasena memperoleh pencerahan tentang hakikat kehidupan, asal-usul manusia, serta hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta hingga mencapai kesadaran spiritual tertinggi.


Sebanyak 110 seniman dilibatkan dalam produksi kolosal ini melalui kolaborasi Program Studi Seni Tari, Seni Karawitan, dan Kriya Kulit sehingga menghadirkan perpaduan harmonis antara tari, musik tradisi, dan seni kriya.




Ketua Program Studi Tari, Ali Nur Sotya Nugraha, M.Sn., mengatakan AKNSB Yogyakarta membawa tiga karya utama dalam penampilan di Bali, yakni Tari Topeng Gunungsari dari Fragmen Panji, konser karawitan membawakan karya Lelagon Pangatak berlaras Pelog Pathet Nem ciptaan maestro Ki Narto Sabdo, serta Sendratari Satya Paramartha.


"Dalam sendratari ini kami mengembangkan dasar tari gaya Yogyakarta melalui berbagai modifikasi, namun napas dan identitas Yogyakartanya tetap terasa kuat," ujarnya.


Dari bidang kriya, Ketua Program Studi Kriya Kulit Ima Novilasari, M.Sn., menghadirkan lokakarya tatah sungging sekaligus memamerkan karya mahasiswa berupa wayang kulit dan kulitan jarik bergaya Yogyakarta.


Menurutnya, mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menunjukkan ketertarikan terhadap teknik tatah khas Yogyakarta yang memiliki detail lebih halus dibandingkan gaya Bali.



"Teknik tatah Yogyakarta memiliki detail yang lebih kecil dan rumit sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa di Bali," jelasnya.


Sementara itu, Ketua Program Studi Karawitan Bayu Purnama, M.Sn., menerangkan bahwa pertunjukan musik diawali dengan Gending Soran sebagai pakem gaya Yogyakarta, dilanjutkan iringan Tari Klana Topeng Alus Gunungsari yang berasal dari tradisi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Selanjutnya, para mahasiswa bersama dosen kreativitas karawitan Agustinus Welly Hendratmoko, M.Sn. menggarap tata musik dan efek bunyi untuk menghidupkan suasana dramatik dalam Sendratari Satya Paramartha.




Pagelaran tersebut turut disaksikan Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan Disdikpora DIY, Drs. Raden Suci Rohmadi, M.I.P., yang menegaskan komitmen Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mendukung pelestarian budaya melalui Dana Keistimewaan.


"Dukungan pemerintah akan terus ditingkatkan sebagai bagian dari penguatan pendidikan seni budaya, baik melalui pembelajaran maupun penyediaan sarana dan prasarana," katanya.


Koreografer Wisnu Dermawan, M.Sn., menambahkan bahwa garapan Sendratari Satya Paramartha merupakan interpretasi kreatif terhadap pakem tari klasik Yogyakarta.


Ia menjelaskan sejumlah pembaruan dilakukan pada aspek visual, seperti penggunaan gradasi warna biru pada ilustrasi laut, hijau terang pada karakter naga, serta merah yang lebih ekspresif pada tokoh raksasa.



"Sentuhan visual tersebut merupakan bentuk pengembangan artistik agar lebih relevan dengan selera penonton masa kini, namun tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Yogyakarta," pungkasnya.


Editor - Ray

Komentar

Tampilkan

  • Direktur AKNSB Yogyakarta: Sendratari Satya Paramartha Wujud Pelestarian Budaya Berbasis Inovasi, Sukses Memikat PKB XLVIII Bali
  • 0

Terkini

Topik Populer

Model & Fashion