JAKARTA – Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara tidak hanya diposisikan sebagai proyek infrastruktur berskala nasional, tetapi juga sebagai simbol pembangunan yang menghormati sejarah, budaya, dan peradaban Nusantara. Semangat itu tercermin dalam kunjungan Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, bersama jajaran Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) ke Ternate, Maluku Utara, pada 4–6 Juli 2026.
Alih-alih memulai pembahasan dari aspek investasi maupun konstruksi, rombongan lebih dahulu melakukan ziarah ke sejumlah situs bersejarah Kesultanan Ternate. Langkah tersebut menjadi simbol bahwa pembangunan masa depan sepatutnya berangkat dari penghormatan terhadap warisan leluhur bangsa.
Rombongan yang dipimpin Ketua Umum FSKN, YM Brigjen Pol. (Purn.) Dr. A.A. Mapparessa, M.M., M.Si., Karaeng Turikale VIII Maros, disambut Sekretaris Jenderal FSKN, YM Firman Mudaffar Sjah, putra mendiang Sultan Ternate ke-48, setibanya di Bandara Sultan Babullah.
Destinasi pertama adalah Karamat Kulaba atau Jere Kulaba, kompleks makam para ulama dan leluhur Kesultanan Ternate yang hingga kini menjadi salah satu pusat ziarah masyarakat Maluku Utara. Di lokasi tersebut, rombongan memanjatkan doa sekaligus mendengarkan penjelasan mengenai perjalanan panjang Kesultanan Ternate sebagai salah satu kekuatan maritim terbesar di Nusantara.
Menurut YM Mapparessa, pemilihan lokasi tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam. Ia menilai setiap pembangunan besar harus diawali dengan penghormatan kepada sejarah dan para pendahulu yang telah membangun peradaban bangsa.
"Kami sengaja mengundang Pak Erwanto ke Ternate. Matahari terbit dari timur. Dari timur pula kita diingatkan bahwa pembangunan tidak boleh tercerabut dari sejarah. Sebelum berbicara tentang masa depan, kita harus menghormati mereka yang lebih dahulu membangun peradaban Nusantara," ujarnya.
Ia menegaskan, Bandara Internasional Bali Utara bukan sekadar proyek pembangunan fisik, tetapi bagian dari upaya menghadirkan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang memperkuat konektivitas Bali dengan kawasan Indonesia Timur.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Foramadiahi di lereng Gunung Gamalama, tempat dimakamkannya Sultan Baabullah. Tokoh besar Kesultanan Ternate tersebut dikenal dalam sejarah sebagai pemimpin yang berhasil mengusir Portugis pada abad ke-16 sekaligus memperluas pengaruh Ternate hingga berbagai wilayah di Indonesia Timur.
Di hadapan makam Sultan Baabullah, YM Firman Mudaffar Sjah menegaskan bahwa kepemimpinan sang sultan menjadi teladan dalam keberanian, diplomasi, serta kemampuan membangun persatuan antardaerah.
"Kalau ingin memahami Ternate, kita harus mengenal Sultan Baabullah," katanya.
Menurut Firman, nilai-nilai kepemimpinan Sultan Baabullah masih relevan untuk menjadi inspirasi pembangunan Indonesia yang lebih terhubung, inklusif, dan berkeadilan.
Dalam catatan sejarah, Kesultanan Ternate yang berdiri sejak 1257 berkembang menjadi salah satu kerajaan maritim paling berpengaruh di Asia Tenggara. Pada masa kejayaannya, Ternate menguasai jalur perdagangan rempah hingga Maluku, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, bahkan sebagian wilayah Filipina Selatan.
Agenda berikutnya membawa rombongan menuju Kedaton Buku Bandera atau Kadato Ici, bekas istana peristirahatan Kesultanan Ternate yang berada di dataran tinggi. Dari kawasan tersebut, panorama Kota Ternate dan Pulau Tidore tampak membentang luas.
Pada masa lampau, lokasi itu berfungsi sebagai titik pengawasan lalu lintas kapal dagang yang memasuki perairan Ternate. Informasi mengenai kedatangan kapal diteruskan ke keraton melalui isyarat bendera, menjadikannya sebagai pusat pengawasan strategis perdagangan rempah Nusantara.
Di lokasi inilah pembahasan mengenai pembangunan Bandara Internasional Bali Utara semakin mengemuka.
YM Mapparessa menyampaikan bahwa FSKN yang menaungi raja, sultan, dan pemangku adat dari berbagai wilayah Indonesia memberikan dukungan moral terhadap pembangunan bandara tersebut karena dinilai sejalan dengan semangat pemerataan pembangunan nasional.
"Bandara Bali Utara kami pandang sebagai gerbang baru Indonesia Timur. Bukan hanya untuk Bali, tetapi juga membuka peluang bagi Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Dukungan kami merupakan dukungan moral agar pembangunan berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap sejarah dan kearifan Nusantara," katanya.
Pandangan serupa disampaikan YM Firman Mudaffar Sjah. Menurutnya, Bali Utara memiliki posisi strategis untuk membuka jalur konektivitas baru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia.
"Kalau Indonesia ingin membangun secara adil, harus ada pusat-pusat pertumbuhan baru. Bali Utara memiliki posisi strategis untuk membuka konektivitas menuju kawasan timur," ujarnya.
Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara sendiri telah menjadi agenda strategis nasional selama lebih dari satu dekade. Pengembangannya kini memperoleh landasan kebijakan melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yang memasukkan penguatan konektivitas Bali Utara sebagai bagian dari strategi pemerataan pembangunan serta pengembangan jaringan logistik nasional.
Bagi Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, kunjungan ke Ternate memberikan makna yang jauh melampaui pembahasan proyek pembangunan.
"Saya datang dengan pikiran mengenai sebuah proyek infrastruktur. Namun saya pulang membawa pelajaran bahwa pembangunan tidak dapat dipisahkan dari sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu. Perjalanan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga," ungkapnya.
Sebelum rombongan kembali ke Jakarta melalui Bandara Sultan Babullah pada 6 Juli 2026, YM Firman berharap kehadiran Bandara Internasional Bali Utara kelak tidak hanya dikenang sebagai fasilitas transportasi modern, tetapi juga menjadi simbol pemerataan pembangunan nasional yang berpijak pada identitas budaya bangsa.
Kunjungan dua hari di Ternate itu menegaskan bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak cukup hanya ditopang investasi dan teknologi.
Fondasi sejarah, penghormatan terhadap budaya, serta nilai-nilai luhur Nusantara menjadi bagian penting dalam mewujudkan Bandara Internasional Bali Utara sebagai gerbang baru pertumbuhan ekonomi, penguatan konektivitas, dan pemerataan pembangunan menuju Indonesia Timur.
Editor - Ray





