-->

Profile

Iklan

 


Warak Keruron Massal di Denpasar Jadi Media Penyucian dan Pemulihan Trauma Pasca Kehilangan Janin

Admin
Kamis, 28 Mei 2026, Mei 28, 2026 WIB Last Updated 2026-05-27T23:49:19Z

 

komunitas Atma Widya bersama Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) adakan Warak Keruron. 

DENPASAR – Sebanyak 203 peserta mengikuti rangkaian upacara Warak Keruron, Ngelangkir, dan Ngelungah yang digelar secara massal di Pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar. Ritual yang diselenggarakan komunitas Atma Widya bersama Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) itu menjadi sarana penyucian spiritual sekaligus pemulihan batin bagi keluarga yang mengalami keguguran maupun kehilangan bayi.


Prosesi ritual dipuput Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sara Sri Satya Jyoti dari Griya Bhuwana Dharma Santhi Sesetan. Suasana khidmat tampak menyelimuti jalannya upacara yang diikuti peserta dari berbagai daerah di Bali.




Pinandita I Wayan Dodi Arianta mengatakan, Warak Keruron merupakan ritual penyucian bagi pasangan yang mengalami keguguran. Dalam tradisi Hindu Bali, janin yang telah terbentuk diyakini sudah memiliki unsur kehidupan spiritual atau atman sehingga ketika gugur dalam kandungan diperlukan upacara khusus sebagai bentuk penghormatan dan penyucian.


“Upacara ini bukan hanya berkaitan dengan adat dan spiritual, tetapi juga menjadi proses pemulihan lahir batin bagi keluarga yang mengalami kehilangan,” ujarnya, Senin (25/5/2026).


Ia menjelaskan, secara etimologis Warak atau Barak berarti merah yang melambangkan darah dan kehidupan, sedangkan Keruron berarti gugur atau berakhirnya kehidupan dalam kandungan.


Selain Warak Keruron, peserta juga mengikuti upacara Ngelangkir dan Ngelungah. Ngelangkir diperuntukkan bagi bayi keguguran maupun bayi yang meninggal sebelum tali pusar lepas, sedangkan Ngelungah ditujukan bagi bayi yang meninggal sebelum tanggal gigi.


Pinandita I Wayan Dodi Arianta


Menurut Dodi, tidak sedikit peserta yang mengalami tekanan psikologis setelah kehilangan janin atau bayi. Mulai dari rasa cemas, sulit tidur, ketakutan berlebihan, hingga gangguan batin yang berkepanjangan.


“Ada peserta yang mengaku mengalami perasaan seperti ada beban berat, tidur terasa terganggu, bahkan sakit yang tidak kunjung sembuh karena kondisi mental dan spiritualnya belum pulih,” katanya.


Karena itu, ritual massal dipilih agar peserta dapat mengikuti prosesi dengan lebih nyaman tanpa merasa sendiri ataupun takut terhadap stigma sosial, termasuk bagi mereka yang mengalami keguguran di luar pernikahan resmi.


“Dengan pelaksanaan bersama, peserta merasa lebih tenang dan tidak harus membuka persoalan pribadinya kepada lingkungan sekitar,” imbuhnya.


Untuk mengikuti ritual tersebut, peserta dikenakan biaya Rp650 ribu per pasangan yang mencakup sarana upacara seperti sanggah urip, sesajen, soda putih kuning, dan perlengkapan ritual lainnya. Peserta hanya diminta membawa perlengkapan sembahyang pribadi.


Komunitas Atma Widya bersama PSN juga membuka kesempatan bagi peserta yang belum berstatus suami istri secara sah untuk mengikuti prosesi dengan penyesuaian tata upacara sesuai kondisi masing-masing.


Menurut Dodi, Warak Keruron menjadi salah satu warisan spiritual masyarakat Hindu Bali yang masih dijaga hingga kini. Ritual tersebut tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap kehidupan, tetapi juga mencerminkan nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial dalam menghadapi duka kehilangan.

| Ray

.................... 


Info pendaftaran selanjutnya silahkan hubungi
Klik di Admin

Komentar

Tampilkan

  • Warak Keruron Massal di Denpasar Jadi Media Penyucian dan Pemulihan Trauma Pasca Kehilangan Janin
  • 0

Terkini

Topik Populer

Model & Fashion