-->

Profile

Iklan

 


Menunggu Ketegasan Negara di Langit Utara Bali

Admin
Rabu, 31 Desember 2025, Desember 31, 2025 WIB Last Updated 2025-12-31T03:30:08Z

 


SINGARAJA, BALI — Pengamat ekonomi Prof. Dr. Ichsanuddin Noorsy menegaskan bahwa keberadaan Bandara Internasional Bali Utara merupakan keputusan negara yang tidak boleh diganggu oleh ego sektoral maupun tarik-menarik kepentingan. 


Ia menekankan bahwa Peraturan Presiden tentang RPJMN 2025–2029 bersifat mengikat dan harus dijalankan secara konsisten. Menurutnya, bandara ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan instrumen pemerataan ekonomi dan keadilan pembangunan yang telah lama ditunggu masyarakat Bali Utara.


Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan publik yang semakin menguat pada 2025, tahun yang dinilai krusial dalam perjalanan panjang realisasi Bandara Internasional Bali Utara. Bagi PT BIBU Panji Sakti selaku penggagas, tahun ini bukan hanya rangkaian penandatanganan nota kesepahaman, melainkan fase konsolidasi visi yang mempertemukan kebijakan negara, kesiapan investor, dan aspirasi masyarakat dalam satu arah pembangunan.




Gagasan bandara di Bali Utara lahir dari persoalan lama yang tak kunjung tuntas, yakni ketimpangan pembangunan antara Bali Selatan dan Bali Utara. Selama puluhan tahun, pusat pertumbuhan ekonomi dan pariwisata bertumpu di wilayah selatan, sementara kawasan utara tertinggal dari sisi konektivitas, investasi, dan peluang ekonomi. 


Masuknya proyek ini ke dalam RPJMN nasional mengubah statusnya dari sekadar wacana daerah menjadi agenda strategis negara yang kini ditunggu realisasinya.

Data pariwisata menunjukkan konsentrasi aktivitas internasional masih didominasi Bali Selatan, dengan Bandara I Gusti Ngurah Rai mendekati batas kapasitas. 


Di sisi lain, Bali Utara menyimpan potensi besar dari bentang alam, sektor agro-maritim, hingga kedekatan dengan jalur logistik Indonesia Timur. Bandara Internasional Bali Utara dirancang untuk memecah konsentrasi pertumbuhan tersebut, membuka pusat ekonomi baru, dan menciptakan keseimbangan sosial-ekonomi yang lebih adil.


Di luar fungsi penumpang, bandara ini sejak awal diproyeksikan sebagai simpul logistik dan hub kargo strategis. Letaknya yang menghadap kawasan produksi di Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua membuka peluang besar bagi distribusi cepat komoditas perikanan, hortikultura, dan produk UMKM Indonesia Timur. Efisiensi konektivitas udara diyakini mampu meningkatkan daya saing ekspor nasional dan memperkuat rantai nilai ekonomi domestik.


Sepanjang 2025, PT BIBU Panji Sakti mengikat sejumlah kerja sama strategis dengan mitra nasional dan internasional. Kolaborasi global menghadirkan desain bandara berstandar internasional, teknologi konstruksi modern, serta skema pembiayaan jangka panjang dengan proyeksi investasi sekitar Rp50 triliun. 


Keterlibatan BUMN strategis seperti PT Len Industri dan PT Dirgantara Indonesia memperkuat aspek teknologi navigasi dan membuka peluang pengembangan industri dirgantara pendukung di Bali Utara. Sementara itu, kerja sama di sektor kendaraan listrik menegaskan orientasi bandara sebagai kawasan transportasi hijau.




CEO PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, menyatakan bandara ini dirancang sebagai gerbang dunia yang modern, ramah lingkungan, dan berakar pada budaya Bali. Ia menegaskan proyek tersebut bukan investasi jangka pendek, melainkan fondasi peradaban yang akan menentukan arah pembangunan Bali ke depan.


Pendekatan pembangunan juga mengusung filosofi Tri Hita Karana sebagai landasan, memastikan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas tetap terjaga. Komisaris PT BIBU Panji Sakti, Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia, menilai konsep ini membuktikan bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan seiring dengan kearifan lokal tanpa menghilangkan identitas Bali.




Dukungan moral turut datang dari penglingsir puri di berbagai wilayah Bali yang menyuarakan aspirasi keadilan pembangunan bagi Bali Utara. Melalui Paiketan Puri-Puri Se-Jebag Bali, mereka menyampaikan harapan agar janji negara tidak berhenti pada dokumen perencanaan, tetapi diwujudkan dalam langkah nyata.


Jika 2025 menjadi tahun pemantapan visi dan konsolidasi dukungan, maka tahun-tahun berikutnya dinanti sebagai fase eksekusi. Bandara Internasional Bali Utara menyentuh banyak kepentingan strategis sekaligus, mulai dari pemerataan pembangunan, ketahanan logistik nasional, hingga masa depan Bali yang lebih seimbang. 


Kini, keputusan sepenuhnya berada di tangan negara, dan publik menunggu apakah janji tersebut benar-benar akan menjelma menjadi jejak sejarah di langit utara Bali.


Editor - Ray

Komentar

Tampilkan

  • Menunggu Ketegasan Negara di Langit Utara Bali
  • 0

Terkini

Topik Populer

Model & Fashion