-->

Search News

News

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Nasional

Pariwisata

Life & style

Musik & Film

Profile

Model & Fashion



Galang Dana, Koster Bantu Pulangkan Jenazah Pekerja Migran di Ceko

 

Nyoman Yudara meninggal di Ceko. Jenazahnya belum bisa dipulangkan karena terkendala biaya. ( Istimewa )

BULELENG - Menerima informasi seorang pekerja migran Indonesia (PMI) atas nama Nyoman Yudara asal Desa Tejakula, Buleleng, yang bekerja di Ceko telah meninggal, Jumat (7/6/2024), Ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster langsung gerak cepat menggalang dana.


Pasalnya, keluarga menginginkan jenazah almarhum dipulangkan agar bisa dilakukan upacara ngaben.


“Sementara biaya pemulangan jenazah cukup besar sekitar Rp98 juta, sehingga sangat memberatkan pihak keluarga,” kata Koster di Denpasar, Minggu (9/6/2024).




Wayan Koster pun bertindak cepat untuk menolong keluarga almarhum. Ia menugaskan petugas partai asal Buleleng bergotong royong membantu agar jenazah almarhum segera bisa dipulangkan.

Ternyata respon petugas partai sangat cepat, sehingga pada 9 Juni sudah terkumpul dana gotong royong Rp100 juta. Adapun yang bergotong royong adalah:


1. Wayan Koster Rp15 juta;

2. Gede Supriatna Rp12 juta;

3. Nyoman Sucidra Rp10 juta;

4. Ketut Kariasa Adnyana Rp10 juta;

5. Made Bayu Adisastra Rp5 juta;

6. Budi Adnyana Rp5 juta;

7. Kadek Turkini Rp5 juta;

8. Ngurah Arya Rp5 juta;

9. Tujuh anggota DPRD Bali asal Buleleng Rp17,5 juta;

10. Empat belas anggota DPRD Buleleng Rp15,5 juta.


Menurut Koster, dana akan diserahkan kepada pihak keluarga Senin (10/6/2024) pukul 15.00 WITA oleh petugas partai asal Buleleng dipimpin Gede Supriatna.


Koster juga sudah berkoordinasi dengan pihak kedutaaan, Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, dan Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Bali untuk proses pemulangan jenazah almarhum secepat mungkin. “Astungkare semua berjalan lancar,” kata Gubernur Bali periode 2018-2023 itu. (Tim)


Dianggap Rugikan Debitur, Kuasa Hukum Tanya apakah Gunakan Tagline AKHLAK

 


DENPASAR - Agenda lanjutan sidang gugatan perdata yang diajukan oleh Dr. IB Suryahadi terhadap bank Mandiri pada hari ini adalah melihat langsung obyek aset ketiga yang dianggunkan, Jumat (07/06/2024)


Aset ini berupa rumah tinggal yang saat ini didiami oleh keluarga Dr.IB Suryahadi beralamat di desa Padang Sambian Denpasar, yang juga terdapat merajan leluhur yang disakralkan oleh pihak keluarganya.






Kedatangan majelis hakim dan para pihak yang terlibat pada gugatan perkara ini disambut hangat pihak keluarga.


Ketua majelis hakim, Putu Ayu Sudariasih,S.H.,M.H, menyatakan masih terbuka adanya peluang perdamaian kedua belah pihak diluar persidangan.


"Kami sarankan adanya pendekatan perdamaian, untuk bisa mencari solusi yang bisa diterima kedua belah pihak," ujarnya.


Senada dengan majelis hakim, perwakilan dari Balai Lelang juga mendukung adanya pembicaraan damai untuk menghindari terjadinya lelang terhadap aset ini.


"Kami memberi kesempatan agar ada kesepakatan dari kedua belah pihak untuk menghindari terjadinya lelang terhadap aset ini," ujarnya.




Pihak tergugat yang hadir hari ini hanya dari Balai Lelang Denpasar, sedangkan pihak bank Mandiri sebagai tergugat utama, tidak ada yang terlihat dilokasi.


Dr IB Suryahadi bersama istrinya dengan didampingi kuasa hukumnya, Suriantama Nasution dan Saud Susanto, saat berbicara pada awak media


Penggugat Dr IB Suryahadi, menyayangkan atas ketidakhadiran pihak bank Mandiri, namun hal ini sebenarnya sudah diprediksi olehnya.


"Apalagi setelah diajukan sita jaminan terhadap aset rumah ini, sepertinya ada pihak yang tidak terima dan mencoba mengganggu saya.

Dirumah ini ada merajan, tempat saya bersembahyang dan berkomunikasi dengan leluhur saya," ujarnya.




"Saya tetap akan bayar sisa hutang saya, tapi tolong kembalikan juga kerugian dari aset-aset saya yang sudah dilelang pihak bank Mandiri," tambahnya.


Kuasa hukum dari Satu Pintu Solusi, Suriantama Nasution menyatakan keheranannya mengapa pihak bank Mandiri tidak hadir dalam peninjauan lokasi obyek sengketa hari ini.


"Padahal dalam persidangan kemarin pihak bank Mandiri sangat menggebu-gebu dalam menanggapi para saksi.

Ini memang hak mereka untuk tidak hadir, tetapi perlu diketahui, diam itu berarti setuju," tegasnya.


Dasar dari segala hukum di Indonesia adalah hukum adat, bila tidak mampu menjaga dan mempertahankannya maka akan menggerus dari hukum adat khususnya di Bali.


Dalam persidangan kemarin, pihak kuasa hukum bank Mandiri menyatakan adanya ancaman pidana jika terjadi putusan pembayaran pokok saja karena termasuk tindakan yang merugikan negara.


"Bagaimana jika pihak bank Mandiri Tbk ini yang merugikan debiturnya, apakah sudah melaksanakan aturan sebagaimana tertera dalam Pernyataan Standar Akutansi Keuangan (PSAK) 71 yang menjelaskan tentang expected credit loss ?

Apakah mereka juga sudah menerapkan budaya AKHLAK sesuai tag line BUMN dalam tata kelola perbankannya ?" tanyanya.


"Ini juga menjadi literasi kepada masyarakat umum bahwa hutang piutang tidak bisa langsung dikonfersikan menjadi jual beli dan apabila ada kesulitan dalam kemampuan bayar maka setidaknya debitur harus menyampaikan kepada kreditur, dimana pihak kreditur seharusnya menghentikan bunga dan denda, bukan malah menjadi keuntungan nyata buat entitas bisnis, khususnya perbankan," jelasnya.


Belum lagi upaya intimidasi juga dirasakan oleh penggugat. Dr. IB Suryahadi (pengugat)  juga sempat bercerita kepada awak media, bahwa dirinya dihalang - halangi oleh orang - orang diduga suruhan (preman) oleh tergugat.


"Iya, saya juga sempat dihalang -halangi orang berbadan besar, kesannya untuk menakut - nakuti saya, " ungkapnya kepada awak media.


Persidangan akan dilanjutkan pada dua minggu mendatang dengan menghadirkan saksi ahli dan saksi peristiwa. (Tim)

Kejaksaan Superbody: Framing Kejaksaan yang Diadu Domba

 



JAKARTA - Abdurrahman Taha (ART), seorang senator yang dikenal sebagai ART mencermati pemberitaan di media elektronik, adanya ahli yang berpendapat bahwa Kejaksaan saat ini telah berubah menjadi lembaga Superbody. 


Secara tegas ART menyatakan pemberitaan - pemberitaan yang menyudutkan Kejaksaan apalagi terkait masalah kewenangan dan ditambah dengan pembunuhan karakter di media sosial terhadap pejabat Kejaksaan adalah merupakan serangan balik koruptor (corruptor fight back) dengan mengadu domba antar penegak hukum.


Seyogyanya, menurut ART masyarakat harus cerdas dan kritis terhadap upaya-upaya serangan balik koruptor dan memandang setiap permasalahan dengan pemikiran yang jernih.

ART menegaskan bahwa Kejaksaan memang diberikan kewenangan lebih, namun hanya khusus tindak pidana korupsi. Dan, kewenangan tersebut adalah hal yang biasa, bahkan gebrakan Kejaksaan mengungkap Oligarki di dunia pertambangan itulah yang dinantikan masyarakat.

Kasus Timah, apabila hanya ditangani melalui penegakan administrative penal law maka yang terjaring hanyalah pelaku-pelaku kecil, seperti penambangan tanpa ijin. 


Kejaksaan melalui instrumen tindak pidana korupsi sesungguhnya membongkar sistem jahat atau mafia di sektor pertambangan yang pada kenyataannya rakyat kecil yang dirugikan sementara ada pihak-pihak tertentu yang menikmati hasil pertambangan secara berlimpah-ruah.

ART juga menjelaskan, framing negative terhadap Kejaksaan tidak akan berarti apa-apa selama Kejaksaan membuktikan kinerjanya menangani kasus-kasus mega korupsi. 


ART yakin rakyat akan berdiri di depan lembaga yang selalu memperjuangkan hak-hak mereka. (Tim)

Sita Jaminan Bank Mandiri Ada Dugaan Penyalahgunaan Keadaan

 

Didampingi kuasa hukum di PN Denpasar.


DENPASAR - Sidang gugatan perdata yang diajukan oleh Dr. IB Suryahadi terhadap dugaan perbuatan melawan hukum yang terjadi dalam proses penjualan aset miliknya yang dijaminkan ke pihak Bank Mandiri berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Rabu 22/05/2024.


Ada dugaan penyalahgunaan keadaan  malmanagement dan maladministrasi yang dilakukan oleh pihak Bank Mandiri sebagai tergugat sehingga menimbulkan kerugian dengan cara menyita dan menjual aset agunan milik Dr. IB Suryahadi dibawah harga apraisal yang seharusnya.




Dari hasil pelelangan dua agunan yaitu SHM no 1888/Pererenan, Badung, Bali atas nama Retty Dewi Widiyanti, seluas 1100 M2 dan Sertifikat Hak Milik (SHM) nomor 00248/Padangsambian Kaja, Denpasar Bali atas nama Dr IB Suryahadi, seluas 250 M2 senilai Rp 5.400.000.000 (lima milyar empat ratus juta rupiah), dan berdasarkan nilai apraisal seharusnya dapat terjual Rp. 8.833.000.000 (delapan milyar delapan ratus tiga puluh tiga juta rupiah).


Kerugian yang diderita oleh para penggugat sebesar Rp 3.433.000.000 (tiga milyar empat ratus tiga puluh tiga juta rupiah). Hal ini jelas merupakan tindakan malmanagement dan maladministrasi.


Tim kuasa hukum Satu Pintu Solusi, saat memenuhi undangan mediasi dari unit recovery Bank Mandiri (22/05/2024)


Kuasa hukum penggugat, Suriantama Nasution dari Satu Pintu Solusi, menyatakan, 





"Hari ini agenda persidangan dimulainya pembuktian dokumen yang ada. Kita mengajukan sita jaminan atas aset yang tersisa milik klien kami, karena dari tiga aset yang di hak tanggungkan pada Bank Mandiri, dua aset sudah diambil alih dengan cara melawan hukum, yakni dijual dibawah nilai apraisal, sehingga merugikan klien kami"


"Kalau kita mau memberikan edukasi dan literasi keuangan perbankan kepada masyarakat, posisi kreditur dan debitur seharusnya sama-sama dalam posisi equality before the law, keduanya mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing yang sama-sama harus dilindungi.

Sayangnya, saat ini kita melihat posisi debitur diposisi yang lemah, kurang memiliki bargaining power (posisi tawar) yang kuat," jelasnya.


"Ini masalah bagaimana aturan prosedural yang berlaku dilanggar, ketidak patuhan dengan aturan yang berlaku di perbankan sehingga menimbulkan nilai lebih. Tanpa lelang, barang diambil, deviasi nilainya besar dan ini terjadi diruang publik," ujarnya


Tim kuasa hukum Satu Pintu Solusi, Saud Susanto, HK, SH saat menyampaikan keterangan pada awak media


Tim kuasa hukum Satu Pintu Solusi, Saud Susanto, HK,SH, menyatakan, "Saat sidang tadi ada perlawanan atau sanggahan dari pihak tergugat terkait pengajuan sita jaminan terhadap obyek dimaksud dan menyatakan hal ini menyalahi hukum acara."


"Sesuai aturan, sita jaminan itu boleh dilakukan sebelum atau selama proses pemeriksaan berlangsung dan belum adanya keputusan tetap dari PN," jelasnya.




Tujuan memohonkan sita jaminan ini agar terlindungi kepentingan penggugat dari itikad buruk tergugat, sehingga pada saat putusan berkekuatan hukum tetap, gugatan tidak hampa (illusoir).


Dimana aset jaminan ini tidak bisa dipindahkan kepada orang lain melalui jual beli, penghibahan, dan sebagainya maupun tidak dibebani dengan sewa menyewa atau diagunkan kepada pihak lain.


"Tadi pagi kami sudah menghadiri undangan pertemuan dari bagian recovery Bank Mandiri untuk menyelesaikan permasalahan ini"


"Dikondisikan dari versi pihak Bank Mandiri bahwa ini adalah masalah wanprestasi, sedangkan kami melihatnya dari sisi adanya tindakan melawan hukum. Undangan pertemuan ini adalah upaya itikad baik untuk menyelesaikan kasus ini secara musyawarah mufakat"


"Tadi mereka membuka ruang untuk mengajukan ke atasannya agar klien kami bisa menunaikan penyelesaian hutang dengan membayar hutang pokoknya, tidak dibebani bunga dan denda lagi. Kami berkeyakinan komunikasi ini bisa menjadi tahapan penyelesaian yang baik," ujarnya.


"Apapun namanya, hutang itu tetap harus dibayar, tetapi apabila dalam penyelesaiannya ada pihak yang dirugikan atau ada tindakan melawan hukum maka perlu adanya negosiasi atau ruang komunikasi antar kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah ini," pungkasnya.


Tim kuasa hukum Bank Mandiri menolak berkomentar saat akan dikonfirmasi oleh media, "Silahkan bersurat dan mengajukannya ke Menara (Mandiri)", elaknya.


Bank Mandiri ini merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang masuk dalam daftar emiten perbankan di Bursa Efek Indonesia dengan kode BMRI.


Sesuai visi dan misi yang ingin dicapai oleh Bank ini yaitu dapat menjadi partner yang baik untuk semua nasabahnya, semoga bisa terwujud. (Tim)

Dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Widya Andescha Hadiri sidang

 


BANTEN - Sidang gugatan perkara dugaan penipuan calon tenaga kerja migran yang dilayangkan oleh Yayasan Asteria dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) , Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP)  Infinity Training Center kepada PT Dinasty Insan Mandiri dengan tergugat utama Widya Andescha selaku direktur Penempatan Formal dan juga Kepala Cabang Tangerang  PT Tulus Widodo Putra  kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Kamis (16/5/2024).


Pada sidang tersebut, tergugat Widya Andescha memenuhi panggilan untuk hadir mengikuti jalannya persidangan. Didalam persidangan, Widya Andescha selaku tergugat mengatakan bahwa kantor sudah tidak beroperasi lagi.



Hal tersebut langsung dibantah oleh Kuasa Hukum dari Yayasan Asteria dan Lembaga Pelatihan Infinity Training Center Suriantama Nasution. Menurut Rian, saat dirinya mengunjungi sekitar satu minggu yang lalu kantor tersebut masih beraktifitas, bahkan masih menerima mereka dan memberikan surat-surat. 


"Ini yang kita pertanyakan karena sebelumnya dari komunikasi intens itu yang kita laksanakan dari bulan Januari tepatnya pada tanggal 12 Januari itu sampai ada pernyataan kesanggupan pengembalian uang, tapi sampai hari ini tidak terealisasi. Nah aset ini adalah salah satu yang akan kita letakkan sita dalam gugatan di PN Tangerang. Apa yang kita sangkakan sebagai bukti dalam keperdataan ini, pertama dahulu dia menggunakan kantor lama, kemudian ditutup dan disewakan, lalu pindah lagi dan sebelum dijadikan dapur dulu dibuat menjadi tempat kost penampungan siswa-siswa disebelahnya yang sekarang ditulis disewakan. Inilah sangkaan permulaan kita bahwa ada dugaan indikasi percobaan melepaskan aset dan kondisi inilah yang kita tangkap sampai hari ini," jelasnya kepada awak media di kantor PT Dinasty Insan Mandiri yang sudah dalam kondisi bangunan tertutup dan di gembok.



Lebih lanjut, dikatakan Rian, dirinya akan terus melakukan upaya hukum agar tergugat mengembalikan dana kepada penggugat bukan hanya janji-janji saja.


"Gugatan kami jumlahnya Rp3,1 milyar rupiah itu cukup besar dan akan terus kita minta, tapi hingga kini sebatas dijanjikan terus oleh seorang Widia Andescha. Mereka mengabaikan dan menganggap gugatan ini sepele jadi kita pingin ada kekuatan, ketegasan hukum yang bisa memberikan efek jera jangan sampai siswa atau orang lain kena permasalahan yang sama," tegas Rian. 


Sementara itu, Saud Susanto dari kuasa hukum Yayasan Asteria yang mewakili 101 siswa calon tenaga kerja migran yang juga hadir dalam sidang.


Dirinya menegaskan akan tetap tegak lurus dalam gugatan kami, mewakili 101 siswa yang di gelar di PN Tangerang yang mana kami berharap dalam salah satu amar putusan.


"kami menginginkan agar pengadilan menghukum para tergugat dengan menanggung secara renteng kerugian secara keseluruhan sebesar 3,069 milyar rupiah, demi memberikan rasa keadilan bagi para pemberi kuasa kami," ujarnya


Ditempat yang sama perwakilan dari PT Reka, Gede Tariasa menyatakan sempat berbicara kepada tergugat Widya Andescha terkait masalah pengembalian uang tapi yang bersangkutan tidak memberikan jawaban kepastian kapan akan dikembalikan. 


"Dalam persidangan majelis Hakim sempat menanyakan KTP dan SIM tergugat, tapi jawabannya tidak ada karena dicuri dan kaca mobilnya dirusak namun kuasa hukumnya mengatakan bahwa pencurinya sudah tertangkap," kata Gede Tariasa.


Menurut Tariasa, jika sudah ditangkap, secara logika akal sehat KTP dan SIMnya pasti sudah dikembalikan. 


"Jadi jelas ini ada kejanggalan dan dugaan indikasi upaya untuk menghilangkan identitas," tegasnya.


Pada sidang dan pemberitaan sebelumnya diketahui kasus ini awalnya dilaporkan oleh Ni Putu Asteria Yuniarti, selaku direktur dari Yayasan Asteria dan Lembaga Pelatihan Infinity Training Center yang ditunjuk sebagai mitra untuk memberikan pelatihan bagi siswa calon tenaga kerja migran yang direkrut oleh PT Reka Kerja Semesta yang oleh Widia Andescha juga dijanjikan fee dalam perekrutan calon siswa untuk mengikuti pelatihan sebagai calon pekerja migran ke Polandia.


Namun pengiriman dan penempatan tenaga kerja ke Polandia tidak terlaksana sesuai yang dijanjikan, sehingga Yayasan Asteria dan Lembaga Pelatihan Infinity Training Center serta PT Reka sama-sama dirugikan karena tindakan Widia Andescha yang berkesan tidak bertanggung jawab untuk merealisasikan janjinya. (Tim)

Koperasi dan Kemakmuran Bangsa

 

Ilustrasi logo koperasi, sumber 'google picture'


DENPASAR - Di balik sorot gemerlap kesuksesan koperasi di Indonesia, terhampar kisah-kisah inspiratif yang menggugah semangat dan membawa harapan bagi ribuan pelaku usaha. Koperasi bukan sekadar entitas bisnis, tetapi juga tonggak kemakmuran dan keadilan sosial bagi masyarakat. 


Dalam perjalanan yang dipimpin oleh Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap, pemilik Koperasi Cendekia Praja Bakti, kita menemukan jejak-jejak kemakmuran bangsa yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga mengubah pandangan tentang koperasi.


Bagi Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap, Bung Hatta bukan sekadar nama, melainkan pilar yang membimbing langkah-langkah menuju keadilan dan kemakmuran melalui koperasi. 




"Koperasi bukanlah semata alat untuk mencari keuntungan, tetapi panggung di mana impian akan kemandirian ekonomi dan keadilan sosial menjadi nyata," ungkapnya dengan penuh semangat.


Koperasi Cendekia Praja Bakti mengusung revolusi dengan program-program inovatif dan kreatif, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan martabat anggotanya sebagai pelopor perubahan dalam masyarakat. 


“Mulai dari pelatihan keterampilan hingga program pemberdayaan ekonomi, koperasi ini terus menorehkan prestasi gemilang,” imbuhnya.


Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap mengatakan bahwa di tengah gejolak ekonomi global, koperasi menonjol sebagai penanda keberhasilan dalam membangun kemakmuran bangsa. 


“Koperasi bukanlah sekadar lembaga bisnis biasa, ia adalah wadah kebersamaan yang menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” terangnya dengan mata bersinar penuh kecintaan pada koperasi.


Kesuksesan koperasi bukanlah hanya tentang angka dan laba semata, melainkan juga tentang keberhasilan dalam memperkokoh nilai-nilai kebersamaan dan keadilan. 


“Dengan terus mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh besar seperti Bung Hatta, koperasi tetap menjadi mercusuar yang menerangi jalan menuju kemakmuran dan keberlanjutan bagi bangsa Indonesia,” imbuhnya.


Melalui prinsip inklusi, koperasi membuka pintu kesempatan bagi semua lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi. Dengan memberdayakan anggotanya, koperasi mampu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi yang telah lama menjadi momok bagi banyak negara. Di koperasi, setiap suara didengar, setiap kontribusi dihargai, dan setiap anggota memiliki kesempatan yang sama untuk maju.


Namun, Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap menjelaskan bahwa kekuatan sejati koperasi terletak pada semangat kebersamaan dan solidaritas di antara anggotanya. 


“Di dalam koperasi, setiap individu tidak hanya menjadi pengusaha, tetapi juga sahabat dan mitra dalam perjalanan menuju kesuksesan bersama. Dalam suasana saling percaya dan gotong royong, koperasi menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan kolektif dan memupuk rasa memiliki yang kuat terhadap usaha bersama,” terangnya


Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa koperasi menjadi salah satu pilar utama dalam membangun kemakmuran yang berkelanjutan bagi bangsa. Dengan komitmen pada nilai-nilai kebersamaan, inklusi, dan solidaritas, koperasi bukan hanya menjadi cermin kemakmuran ekonomi, tetapi juga perwujudan dari cita-cita sosial yang mulia. Dalam koperasi, kita bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih baik untuk semua.


Dikenal sebagai tokoh Proklamator dan Wakil Presiden pertama Indonesia, Drs. Muhammad Hatta, atau yang akrab disapa Bung Hatta, juga memiliki peran yang signifikan sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Namun, kehadiran Bung Hatta dalam sejarah koperasi Indonesia tidak hanya sebatas sebagai simbol, melainkan juga tercermin dalam kontribusi intelektualnya yang mendalam terhadap pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia.


Salah satu karya terkenal Bung Hatta adalah buku berjudul,


"Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun" 


yang diterbitkan pada tahun 1971. Buku ini bukan hanya sekadar kumpulan pemikiran, tetapi juga merupakan panduan praktis bagi pembangunan koperasi di Indonesia. Dalam bukunya, Bung Hatta menekankan pentingnya koperasi sebagai instrumen untuk memperkuat ekonomi rakyat, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat fondasi demokrasi.


Selain itu, Bung Hatta juga membedakan antara individualitas dan individualisme. Bagi beliau, individualisme menekankan pada kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan bersama, sementara individualitas mengacu pada sifat-sifat moral dan etis yang memperkuat hubungan antaranggota koperasi.


Dengan demikian, koperasi bukan hanya sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai wahana untuk mendidik dan memperkuat nilai-nilai sosial, seperti toleransi, tanggung jawab bersama, dan semangat gotong royong. 


Dalam koperasi, kita tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih baik untuk semua. TIM

Polisi Lambat Tindak, Anak Akui Digosok Kemaluan Bapak Kandung

 

Ilustrasi

SINGARAJA - Perbuatan bejat seorang bapak kandung terhadap buah hatinya dengan gamblang di media sosial dipaparkan, belum juga membuat pihak kepolisian mengambil tindakan cepat dan tegas.

Perbuatan asusila dengan mencabuli putri kandungnya, seorang pria asal Buleleng yang sempat menjadi calon legislatif (Caleg) partai terbesar dan gagal nyaleg di Buleleng dilaporkan ke Polda Bali, bahkan sebelumnya kasus tersebut diadukan ke Polres Buleleng namun tidak mendapat tanggapan lantaran dugaan intervensi pentolan Parpol yang diduga melindungi pelaku. Disini terlihat tindakan hukum itu tumpul keatas dan tajam kebawah. 


Perbuatan yang dilakukan inisial KJA (49) yang dilaporkan istrinya NMJ ke SPKT Polda Bali dengan nomor Surat Tanda Penerimaan Laporan, STTLP/177/III/2024/SPKT/Polda Bali tertanggal 13 Maret 2024, Namun sampai saat ini belum dapat ditanggapi, karena KJA masih belum diamankan.


Perbuatan KJA itu dilakukan kepada anak kandungnya di sebuah kost yang beralamat di Desa Girimas Kecamatan Sawan Buleleng pada Kamis 22 Februari 2024.


"Kasus ini telah dilaporkan oleh ibu korban ke Polda Bali pada Maret lalu, tetapi karena TKP serta terduga pelaku berasal dari Buleleng, kasus ini pun dilimpahkan ke Polres Buleleng untuk memudahkan penyelidikan, " jelas Kepala Seksi Humas Polres Buleleng, AKP I Gede Darma Diatmika, Kamis 25 April 2024.


Ia juga menyebutkan bahwa secara bertahap telah dilakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi atas laporan dan ia juga membantah adanya intervensi pihak-pihak tertentu dalam proses penanganan yang dilakukan di Polres Buleleng.


"Ia benar, kami belum menetapkan sebagai tersangka, penyelidikan masih mengumpulkan bukti yang cukup dan hasil visum, " terangnya.


Visum dan Pendampingan secara psikologis sudah dilakukan terhadap korban.


"Mohon bersabar, hasil visum belum keluar, " ungkap Kasis Humas.


Pelaku dapat dijerat dengan undang - undang Tindak Pidana Pencabulan Anak dalam KUHP Baru.


Jika tindak pidana dalam Pasal 415 UU 1/2023 mengakibatkan luka berat, dipidana penjara paling lama 12 tahun. Jika tindak pidana dalam Pasal 415 UU 1/2023 mengakibatkan matinya orang, dipidana penjara paling lama 15 tahun. (Tim)

Jangan Khawatir, Penderitaan Adalah Bekal Pulang

 

Ilustrasi 


Bagian 1

Penulis: Ray


DENPASAR - Penderitaan seorang manusia merupakan jalan pelepasan, tak ada cara lainnya dalam mencari jalan pulang kembali ke rumah asal kita. Banyak ajaran buku suci mengajarkan kita metode - metode dalam mencapai pencapaian yang diinginkan, biasanya harapan kita yang tertinggi " Moksartham jagadhita ya ca iti dharma”, yang memiliki arti bisa dicari di google bila ingin memahaminya lebih dalam lagi.


Kehidupan manusia adalah ibarat seperti perahu yang melewati sungai dan akan menuju lautan lepas (acintya). Dalam perjalanan sang perahu ini, sang jiwa (pendayung), perahu (sang tubuh) dan sungai dan langit (bawah-atas/ akasa ibu pertiwi dalam kehidupan) serta arus sungai sebagai blue print karma kehidupannya.


Perjalanan menuju lautan inilah yang mengandung banyak problematika dalam kehidupan karena didasari oleh ambisi, keserakahan, kemiskinan dan penderitaan lainnya. Sang jiwa terkadang mendayung terlalu kuat sampai kayu dayung patah, ada yang mengikuti arus terlena terhadap pemandangan sekitarnya, ada yang kebingungan kapan sampai bahkan ingin meloncat dari perahu tubuh ini (mati) lebih cepat bahkan membebani perahu dengan harta benda yang begitu banyak, tentu menyulitkan perahu bermanuver dalam arus air, walaupun itu dapat membuat nyaman karena segala kebutuhan bisa terpenuhi (hiburan sementara).


Untuk meredam kondisi kejiwaan dalam penderitaan mereka, ia menggunakan alat bantu yakni narkoba, minuman keras dan lainnya, karena dengan itu bisa instan dalam menikmati arus sungai penderitaan. Alih -alih belajar meditasi atau lainnya sambil menunggu sang perahu menuju laut lepas (bebas). Alat bantu itu membuat perahu lepas landas sementara dari atas air menuju rasa kedamaian akasa, yang ujungnya perahu akan kembali menghujam air sungai lebih keras dan membuat banyak penderitaan baru bagi perahu. Itu membuat batu, ranting dan masuknya air dalam perahu. Itu membuat perahu atau sang tubuh hancur dan rusak yang ujungnya keinginan mencapai laut lepas (pelepasan) kandas. Bila ia melatih diri dalam meditasi ia akan mampu melewati, merasakan dan mengikuti irama aliran sungai yang kadang deras kadang lambat dalam satu masa kehidupan.


Penderitaan yang dirasa oleh sang nahkoda perahu dalam melewati semua rintangan itu disebut karma kehidupan. Bayangkan bila tidak ada arus sungai, apakah perahu akan berjalan sampai ketujuan? Itulah mengapa penderitaan karma kehidupan itu diperlukan.


Bila ingin detail dalam mempelajari karma kehidupan bukanlah sebuah penderitaan, karena sang jiwa ini menggunakan perahu yang terbatas dengan geraknya di air (alam dunia) sebagai media perjalanannya. Perbedaan jiwa (alam sunia) berbeda dengan alam dunia yang sementara ini, itulah yang membuat dan seolah-olah itu penderitaan, dan itu juga dikarenakan kita terlalu meyakini perahu ini adalah diri kita seutuhnya. karena terbatasnya ruang gerak tadilah kita merasakan penderitaan, sesungguhnya tidak, hanya sebuah pengalaman bagi sang jiwa mengetahui sumber asalnya atau yang kita sebut Tuhan.


Bila kita melihat pengalaman cerita Pandawa atau Bodhisattwa sang Budha, ia bahkan mengalami kematian dalam satu masa kehidupan, atau berganti perahu dalam satu masa kehidupannya. 


Aneh berganti perahu (badan) saat masa kehidupan apa bisa? Bisa, karena badan ini adalah sesuatu yang hidup, berganti sel tiap sel bahkan DNA, itulah yang disebut pencerahan. Bila sudah mencapai pencerahan itulah tubuh awal yang hidup ini mati, biasanya dalam kehidupannya itu mengalami penderitaan dan perubahan yang drastis. 


Contoh sang Budha, harus pergi dari kerajaannya, kita tidak memahami apa yang menyebabkan Budha atau Sidharta Gautama itu pergi dari kerajaannya. Bahkan tidak mungkin ada satu manusiapun yang mau pergi meninggalkan kenyamanan dalam hidupnya tanpa paksaan. Tentu ada sebuah pemantik besar suatu permasalahan didalam internal itu yang membuat sang Budha harus pergi. Itu semua bukanlah kehendaknya, tetapi kehendak jiwa yang sudah melewati ribuan kalpa pengalaman kehidupan, jiwamya telah matang.


Atau Pandawa yang kalah judi, judi bisa saja pertarungan bisnis dalam menjalani hidup ini, atau tersandung kasus yang merubah total hidup kita. Istri dan keluarga minggat hilang dari radar kita, harta tersita pihak yang berwajib atau tertipu dan sebagainya. Bahkan diri ini seperti asing, berbeda dengan kehidupan sebelumnya sebagai anak raja atau apalah yang lebih. 


Semua itu berakhir? Ternyata tidak. Hidup harus berjalan lebih berat, lebih sederhana dan lebih menderita. Sebenarnya tidak demikian, kita terlahir kembali sebagai orang yang berbeda sesuai skenario arus sungai tadi. Sejatinya hidup lebih simple, lebih aktif, lebih sederhana, lebih gesit dan sebagainya. Itu akan membuat kebijaksanaan kita lebih tinggi dari sebelumnya, hidup ini sementara dan bergegas, berlomba-lonba menuju sang sumber yakni Tuhan. 


Jadi, nikmati setiap gerak perahumu agar tidak oleng dan kandas terbentur-bentur batu sungai. Niscaya semua ini tidak ada yang sia-sia, bila saatnya tiba semua kekayaanmu (kerajaan) sang Budha atau Pandawamu kembali, dirimu tidak akan merasa sangat terikat dan beban terhadap itu semua, karena kebijaksanaan yang sudah tumbuh dan ingin kembali kepada sumber segala sumber kehidupan.