-->

Profile

Iklan

 


Cegah Infeksi dan Zoonosis, dr. A.A. Ngurah Rai Kusuma Putra Latih Penanganan Awal Gigitan Hewan di Bali Zoo

Admin
Senin, 05 Januari 2026, Januari 05, 2026 WIB Last Updated 2026-01-05T03:29:08Z

 


GIANYAR - Risiko gigitan hewan di lingkungan kebun binatang tidak bisa dipandang sepele. Selain berpotensi menimbulkan luka serius, gigitan hewan juga berisiko menyebabkan infeksi hingga penularan penyakit zoonosis jika tidak ditangani secara tepat sejak awal. 

Untuk mencegah risiko tersebut, tim akademisi Universitas Warmadewa menggelar pelatihan penanganan awal gigitan binatang dan pengelolaan limbah kebun binatang bagi petugas Bali Zoo.


Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dipimpin oleh dr. A.A. Ngurah Rai Kusuma Putra, Sp.B, bersama dr. I Putu Arya Giri Prebawa, SpPD, serta Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, MSi, dengan melibatkan puluhan karyawan kebun binatang dari berbagai divisi operasional. 


Pelatihan dilaksanakan di Bali Zoo, Gianyar, dan diikuti oleh petugas perawat satwa, keamanan, kebersihan lingkungan, hingga staf operasional.



dr. A.A. Ngurah Rai Kusuma Putra menegaskan bahwa penanganan awal yang tepat menjadi kunci utama dalam mencegah komplikasi serius akibat gigitan hewan. 


“Gigitan dan cakaran hewan berpotensi menyebabkan infeksi, bahkan penularan penyakit zoonosis. Jika pertolongan pertama dilakukan dengan benar, risiko tersebut dapat ditekan secara signifikan,” ujarnya dalam sesi pelatihan.

Selain membekali petugas dengan keterampilan pertolongan pertama pada kasus gigitan hewan, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya sanitasi dan pengelolaan limbah kebun binatang. 

Prof. Luh Suriati menjelaskan bahwa limbah organik seperti kotoran satwa dan sisa pakan, apabila tidak dikelola dengan baik, dapat menjadi sumber penyebaran penyakit dan menurunkan kualitas lingkungan kerja. 



“Pengelolaan limbah yang ramah lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari upaya pencegahan penyakit,” katanya.

Pelatihan dilakukan melalui penyuluhan, demonstrasi teknik perawatan luka, simulasi penanganan insiden gigitan, serta edukasi keselamatan kerja. Untuk mengukur efektivitas kegiatan, peserta mengikuti pre-test dan post-test. 

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebesar 27 persen, mencakup pemahaman tentang langkah pertolongan pertama, pencegahan cedera, sanitasi area kerja, hingga pengolahan limbah kebun binatang yang aman dan higienis.


dr. I Putu Arya Giri Prebawa menambahkan bahwa peningkatan kapasitas petugas kebun binatang berdampak langsung pada keselamatan pengunjung dan kesejahteraan satwa. 

“Petugas adalah garda terdepan. Dengan pengetahuan yang memadai, mereka lebih siap menghadapi insiden dan mampu memutus rantai penularan penyakit sejak dini,” ujarnya.


Sebagai bentuk dukungan berkelanjutan, tim pengabdian juga menyerahkan bantuan berupa peralatan P3K, antiseptik, bandage, serta perlengkapan emergensi lainnya. Peralatan tersebut langsung dimanfaatkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan petugas di lapangan.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari manajemen dan karyawan Bali Zoo. Antusiasme peserta bahkan melampaui target awal, mencerminkan tingginya kebutuhan akan pelatihan keselamatan kerja di lingkungan kebun binatang. 


Tim akademisi merekomendasikan agar pelatihan serupa dilakukan secara berkala dan diperluas, guna memperkuat sistem pencegahan infeksi, meningkatkan keselamatan kerja, serta menjaga kualitas lingkungan kebun binatang secara berkelanjutan.

Editor - Ray

Komentar

Tampilkan

  • Cegah Infeksi dan Zoonosis, dr. A.A. Ngurah Rai Kusuma Putra Latih Penanganan Awal Gigitan Hewan di Bali Zoo
  • 0

Terkini

Topik Populer

Model & Fashion